ATBM

Alat tenun bukan mesin (ATBM) merupakan alat untuk melakukan penenunan yang digerakkan oleh manusia. ATBM dapat dipergunakan sambil duduk (biasa pada industri tekstil kecil dan tradisional) maupun berdiri.

Alat Tenun Bukan Mesin

SOSOK

Imron, Menghidupkan Kembali ATBM

oleh: Stefanus Osa Triyatna

H Imron Mina bin Kamsari

Dari sebuah desa terpencil di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, sejumlah alat tenun bukan mesin atau ATBM telah menghasilkan ribuan sajadah, tirai, dan karpet unik, dengan aroma harum akar wangi yang berkualitas ekspor. Selain batik, tenun ikat akar wangi ini telah menambah daftar potensi ekspor daerah itu.

Dalam perjalanan mencapai rumah H Imron Mina bin Kamsari, sayup-sayup terdengar suara alat tenun kayu yang sedang digunakan para perajin. Bunyi jeglak-jeglok ATBM makin terdengar keras begitu kami melintasi gapura bertuliskan ”Sentra Industri Tenun Kerajinan ATBM” di Desa Pakum Bulan, Buaran, Kabupaten Pekalongan.

Imron ikut berperan menghidupkan denyut ekonomi Desa Pakum Bulan. Dia bukan pengusaha yang datang ke kampung itu dengan modal uang besar. Imron sejatinya adalah anak tukang kerupuk yang tinggal di sebuah rumah di tengah persawahan.

Ayah dari lima anak itu menghasilkan produk berkualitas ekspor yang dibuat ratusan perajin di Desa Pakum Bulan. Apa yang dicapainya kini tak lepas dari kisah perjalanan jatuh bangun pengusaha yang menggeluti industri kecil, seperti tenun akar wangi.

Pergeseran

Seiring kemajuan teknologi, ATBM yang dimiliki warga desa akhirnya cuma menjadi benda kuno yang ”dimuseumkan” pemiliknya. Bahkan, ada warga desa yang memiliki 50 ATBM dan hanya menyimpannya di rumah.

Kesempatan ini tak disia-siakan. Imron kemudian tak sekadar memproduksi alas piring makan berbahan baku lidi, tetapi juga mencoba mengembangkannya dengan memakai bahan baku akar wangi dan serabut bekas kepompong. Dalam perjalanan usahanya, aroma wangi dari akar wangi justru menjadi andalan produk Imron.

”Saya terinspirasi contoh-contoh pemesan dari luar negeri itu,” ucapnya.

Seiring dengan semakin banyaknya pesanan dan beragamnya produk yang harus dibuat, jika awalnya Imron hanya dibantu 15 perajin, dia kemudian bisa menambah jumlah perajin hingga 125 orang. Dari jumlah itu, sebanyak 70 orang khusus membuat tenun akar wangi dan 19 orang lainnya memproduksi tenun berbahan baku eceng gondok.

Alhasil, dari bahan baku akar wangi yang dia peroleh dari Garut, Jawa Barat, itu setiap minggu bisa dihasilkan tenun akar wangi sepanjang sekitar 1.000 meter dengan lebar 120 sentimeter. Berbagai produk barang bisa dibuat dari tenunan itu, mulai dari alas piring makan sampai karpet, tirai, dan partisi.

”Sebagai gambaran saja, kapasitas produksi tirai per minggu bisa mencapai 250 lembar, alas makan 400 lembar, dan sajadah 1.500 lembar,” kata Imron menambahkan.

Kepastian Pasar

Meski produksi meningkat, Imron mengaku kepastian pasar masih menjadi persoalan. Sebab, mereka ”sekadar” menunggu pesanan, belum mampu menerobos sendiri ke pasaran.

Pengusaha dari kawasan Arab, misalnya, memesan aneka produk akar wangi untuk dikirim ke Malaysia. Ironisnya, pengusaha itu meminta label di sudut produknya bertuliskan ”Made in Malaysia”. Bahkan, ada juga label negara lain, seperti Turki dan Uni Emirat Arab.

Pesanan yang datang melalui perantara juga mengakibatkan harga jual yang diperoleh Imron tak maksimal. Ketika sampai ke Malaysia, misalnya, harga jual produknya menjadi berlipat ganda.

Bahkan, saat menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci, Imron bisa mendapati tenun buatan kampungnya itu dijual dengan harga jauh melambung. Contohnya, harga sajadah yang di Pekalongan Rp 40.000, di Mekkah bisa menjadi sekitar Rp 1 juta per helai.

”Sedihnya, konsumen asal Indonesia pun tidak tahu bahwa produk-produk yang dia minati di negeri orang itu sesungguhnya berasal dari Tanah Air, buatan perajin Pekalongan,” tutur Imron yang memasang harga tirai sekitar Rp 60.000 dan karpet Rp 80.000 per lembar.

Sebagai perajin, ia tak menampik jika kontinuitas pembelian itu penting. Sebab, roda perekonomian makin cepat berputar, tanpa harus menunggu pasar.

”Susahnya, bangsa kita sendiri juga yang merusak harga. Sewaktu saya menunaikan ibadah haji tahun 2007, ada perajin di desa yang nekat mengambil order sajadah di bawah harga Rp 40.000 per lembar,” kata Imron yang sedih karena tak ada label ”Made in Pekalongan” dalam produk buatan daerah itu.

Jika kondisi semacam ini dibiarkan, dia khawatir lambat laun akan berpengaruh terhadap kualitas produk. Karena itulah, Imron berusaha menerobos pasar. Bersama beberapa perajin lain, dia membuat barang dengan label ”Made in Indonesia” untuk diekspor ke Oman. ”Saya pengin produk Pekalongan ini bisa bersaing langsung di pasar global,” katanya.

Imron bersyukur, dari usahanya ini dia bisa membiayai sekolah anak, memperbaiki rumah warisan orangtua, menyediakan sarana transportasi pengiriman barang, dan menambah lahan untuk pengembangan usaha.

BIODATA

H. Imron Mina Bin Kamsari

Nama:H Imron Mina bin Kamsari

* Lahir: Pekalongan, 3 Mei 1966
* Istri: Hj Suminah
* Anak:

- Intan Hidayatilah
- Aunurrohmah
- Ainun Najib
- Moh Zaki Aleridho
- Kirana Najwa

* Pendidikan:

- SD/Madrasah Ibtidaiyah Salafiah, Pekalongan
- SMP Islam Sindang Wetan, Pekalongan
- Pendidikan Guru Agama Negeri Pekalongan
- IAIN Wali Songo Semarang

* Pekerjaan:

- Guru SD Pekajangan, Pekalongan, 1986-1992
- Penyalur Pakan Ternak, 1992-1999
- Perajin Tenun Akar Wangi, 2000-sekarang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s